Penampilan peserta didik SMAN 1 Glagah sungguh memukau kali ini, pasalnya mereka memborong berbagai macam kejuaraan dalam acara Bulan Bahasa yang diselenggarakan oleh MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Bahasa Indonesia SMA Kabupaten Banyuwangi di SMAN 1 Giri pada 27-28 Oktober 2018 lalu. Cabang kompetisi di bidang bahasa dan sastra Indonesia yang berhasil diraih adalah Juara 1 dan Juara Harapan 3 Lomba Debat Bahasa Indonesia, Juara 1 Lomba Baca Puisi, Juara 1 dan Juara Harapan 1 Lomba Cipta Puisi. Berikut adalah peserta didik SMAN 1 Glagah yang berhasil menorehkan prestasi di acara bulan bahasa 2018: (1) Juara 1 Lomba Debat Bahasa Indonesia diraih oleh Adrio Ananta Wibawa, Ferry Febrian, dan Alyn Shifa Aulya Wildania dari kelas XI IPA 1; (2) Juara Harapan 3 Lomba Debat Bahasa Indonesia diraih oleh Yoqi Nanda Gustifanny, Lidya Utari, dan Mutiara dari kelas XI IPA 1; (3) Juara 1 Lomba Baca Puisi diraih oleh Auliya Kharisma dari kelas X IPA 4; (4) Juara 1 Lomba Cipta Puisi diraih oleh Nadya Magrisa dari kelas XII IPA 2 dengan judul puisi ‘Perjalanan Masa –Nenek, Cucu, dan Burung-‘; dan (5) Juara Harapan 1 Lomba Cipta Puisi diraih oleh Nadira Andalibta dari kelas X IPA 5 dengan judul puisi ‘Mawar di Genggaman’.     Yang memberikan angin segar bagi kontingen kompetisi bulan bahasa dari SMAN 1 Glagah adalah bahwa pemenang 1 Lomba Debat Bahasa Indonesia akan mewakili Kabupaten Banyuwangi pada ajang yang sama di Tingkat Provinsi Jawa Timur di tahun 2019. Mereka setidaknya akan menghadapi 37 kompetitor dari kabupaten/kota se-Jawa Timur.     Ada catatan menarik dari lomba-lomba yang diselenggarakan oleh MGMP Bahasa Indonesia SMA Kabupaten Banyuwangi kali ini, yakni salah satu peserta lomba monolog SMAN 1 Glagah, Reza Ilhami Pratama dari kelas XI IPA 6, didiskualifikasi oleh juri dan panitia, padahal penampilan Reza sangat mengagumkan dan diapresiasi oleh penonton dan peserta lomba yang lain.  Panitia dan juri beralasan, pendiskualifikasian kesertaan Reza pada lomba monolog dilakukan karena tema monolog yang ditampilkan oleh Reza bukan karya yang berasal dari panitia lomba dan juri, melainkan karya peserta sendiri, padahal menurut pembina monolog, Ibu Siti Rohmatin Nazila, S.Pd.I; panitia sebelumnya membolehkan peserta membawakan karyanya sendiri saat lomba. Dengan raut wajah kecewa Bu Nazil mengungkapkan bahwa ke depan jika acara lomba sudah diputuskan, mestinya tidak perlu diganti-ganti lagi, apalagi pergantian tersebut tidak disampaikan secara resmi kepada seluruh peserta lomba dan pembinanya. Pergantian disampaikan hanya melalui komunikasi chatting via whatapps, sementara guru mata pelajaran Agama Islam itu tidak tergabung dalam whatapps MGMP Bahasa Indonesia SMA Kabupaten Banyuwangi.     Catatan lain yang tidak kalah substansialnya adalah terkait dengan mosi debat. Mosi debat dibuat oleh juri. Tiga hari menjelang lomba debat, 16 mosi debat buatan juri itu diumumkan oleh panitia via whatapps. Tentu setelah mosi diumumkan, 32 peserta debat segera memelajarinya. Dua tim debat SMAN 1 Glagah melakukan pelatihan beberapa hari, bahkan sebelum mosi debat diumumkan oleh panitia.     Mendekati hari H pelaksanaan lomba debat, anak-anak tim debat Smansa Glagah berlatih hingga malam hari. Demikian pula dengan tim debat dari sekolah lain, pasti juga melakukan pelatihan secara intensif seperti yang dilakukan oleh tim debat Smansa Glagah. Namun, sehari menjelang hari pelaksanaan lomba debat, panitia mengubah tiga dari 16 mosi debat. Banyak peserta dan pembina yang komplain karena menurut Abdul Latif, pembina debat dari SMAN 1 Genteng, mengganti tiga mosi dari 16 mosi debat sama halnya menambah jumlah mosi. Ini dinilai memberatkan peserta lomba karena mereka ternyata tidak hanya memelajari 16 mosi tetapi memelajari 19 mosi.     Lalu bagaimana dengan tim debat dari SMAN 1 Glagah menghadapi pergantian tiga mosi debat? Tim debat Smansa Glagah tampaknya cukup percaya diri meskipun ada pergantian mosi debat. Bahkan tim debat Smansa Glagah berhasil mengidentifikasi mosi debat yang salah, yakni mosi ke-16. Bunyi mosi debat ke-16 sebelum diganti adalah ‘Ditiadakannya Aturan Siswa Tidak Naik Kelas pada Kurikulum 2013’. Padahal dalam Permendikbud nomor 53 Tahun 2015 dan Permendikbud nomor 23 Tahun 2016 tidak ada klausul yang mewajibkan semua peserta didik naik kelas. Untungnya mosi debat tersebut diganti oleh panitia bukan karena dinilai salah, melainkan karena dianggap terlalu berat topik bahasannya.     Dua tim debat Smansa Glagah berlatih tidak saja berkaitan dengan mosi debat yang diberikan oleh panitia, tetapi mosi-mosi lain di luar yang ditentukan oleh panitia, juga mereka pelajari untuk mengasah wawasan, karena pada hakikatnya debat tidak hanya menguji kepiawaian berbicara dan berkomunikasi peserta lomba, tetapi juga menguji sejauh mana wawasan dan kemampuan literasi peserta lomba debat. Dan faktanya, tatkala dua tim debat SMAN 1 Glagah masuk final, mosi debat yang diberikan oleh juri bersifat spontan, maksudnya jika dalam babak penyisihan mosi debat diberikan tiga hari menjelang pelaksanaan lomba, pada babak final, mosi debat dibagikan kepada peserta, satu jam sebelum final debat dimulai. SELAMAT KEPADA PESERTA DIDIK SMAN 1 GLAGAH, TINGKATKAN TERUS PRESTASI KALIAN! (ISM).  
0

You may also like

PERINGATAN KE-73 TAHUN HARI GURU DAN PERPISAHAN PURNATUGAS
IKRAR ANTIROKOK DAN DEKLARASI ANTINARKOBA PADA UPACARA 10 NOVEMBER 2018 DIHADIRI OLEH KASAT NARKOBA POLRES BANYUWANGI
PEMBANGUNAN MASJID AL-HURIYAH SMAN 1 GLAGAH MEMASUKI TAHAP PENGECORAN