Oleh : Ayu Fitri Wahyuni Keluanan, S.Pd Tulungagung, 27-28 Agustus 2019 Dalam rangka pelaksanaan program kerja tahun 2019, Dinas Kebudayaan dan Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan Jelajah Sejarah Klasik. Penyelenggaraan Jelajah Sejarah Klasik ini diikuti oleh 16 orang Guru Pendamping dan 64 orang siswa yang berasal dari sekolah yang dipilih oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur. Pemilihan ini didasarkan pada keikutsertaan kegiatan Lawatan Sejarah Tingkat Provinsi Jawa Timur tahun 2015 s/d 2018. Sekolah yang dipilih berasal dari berbagai kabupaten yang ada di Provinsi Jawa Timur dan untuk kabupaten Banyuwangi, SMA Negeri 1 Glagah dan SMA Darussolah Singonjuruh menjadi sekolah yang dipilih untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. SMA Negeri 1 Glagah mengirimkan 3 peserta didik dan 1 guru pendamping untuk berpartisipasi dalam kegiatan jelajah sejarah klasik Jawa Timur.  Tema yang diambil dalam kegiatan kali ini adalah “Menelusuri Jejak Peradaban Klasik di Tulungagung”. Obyek sejarah yang menjadi sasaran kunjungan adalah Candi Sanggrahan, Goa Selomangleng, dan Candi Gayatri (oleh masyarakat setempat sering di sebut dengan Candi Boyolangu). Pada awalnya pembukaan kegiatan dilakukan di Gedung Grha Wisata Disbudpar Surabaya. Setelah melakukan registrasi dan mengikuti kegiatan pembukaan, peserta diminta untuk naik ke 3 armada bus untuk melanjutkan perjalanan ke Tulungagung. Obyek pertama yang menjadi tujuan adalah Candi Sanggrahan. Lokasinya berada di Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu. Di area ini terdapat satu bangunan induk candi dan dua bangunan perwara yang berdiri kokoh di atas batur (pondasi candi) dan menghadap ke arah Barat. Bangunan induk/bangunan utama ini memiliki ukuran panjang sekitar 12,60 m; lebar 9,05 m; dan tinggi 5,86 m. Candi Sanggrahan (Sumber: Dokumentasi Pribadi)  Bangunan utama terdiri dari dua bagian yaitu bagian kaki candi dan bagian tubuh candi. Di bagian kaki candi terdapat sekitar 34 panel berbentuk persegi panjang, yang berisikan relief hewan (fabel) menyerupai figur singa dalam naskah tantri kamadaka. Akan tetapi, masih belum diketahui apakah relief-relief tersebut memiliki hubungan cerita seperti relief pancatatra yang ada di Candi Penataran,Blitar, ataukah hanya sekedar ornamen seperti yang ada di Candi Kidal, Malang. Selanjutnya bagian tubuh candi, di bagian ini tidak terdapat panel-panel yang berukirkan relief, hal itu diduga karena belum selesainya pembangunan candi sanggrahan ini. Arkeolog berpendapat bahwa candi ini dibangun pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit. Jika melihat dari kajian geohistori, muncul dugaan bahwa candi ini dibangun sebagai tempat peristirahatan rombongan pembawa abu Gayatri Rajapadni (nenek Hayam Wuruk) untuk menjalani upacara pendarmaan di Candi Gayatri (Candi Boyolangu). Hal itu dikarenakan jarak dari kedua candi ini yang tidak terlalu jauh.  Berdasarkan keterangan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung, di bagian timur candi utama terdapat lima arca Buddha dengan berbagai posisi mudra dan demi alasan keamanan, kelima arca tersebut akhirnya dipindahkan ke dalam Museum Wajakensis. Goa Selomangleng (Sumber: Dokumentasi Pribadi) Objek kedua adalah Goa Selomangleng yang berada di lereng Jurang Sanggrahan areal kehutanan BKPH Kalidawir, Tulungagung. Ada dua goa di area ini, goa pertama menghadap ke arah Barat dan memiliki keunikan di bagian dalam dindingnya. Bagian dalam dinding goa, tepatnya di panil dinding sisi timur dan utara terdapat relief yang menceritakan tentang bagian cerita Arjunawiwaha. Sedangkan untuk goa yang kedua menghadap ke arah Selatan dan tidak terdapat pahatan relief di dalam dindingnya. Jika melihat dari lokasinya, ada dugaan bahwa lokasi ini dipergunakan untuk bertapa. Mengingat di bagian Barat Goa Selomangleng terdapat areal pegunungan, dimana bagi kepercayaan masa itu, wilayah pegunungan dimanifestasikan sebagai tempat suci para dewa. Candi Gayatri (Sumber: Dokumentasi Pribadi) Objek terakhir yang dikunjungi pada kegiatan jelajah sejarah klasik adalah Candi Gayatri atau Candi Boyolangu. Lokasinya tidak terlalu jauh dari Candi Sanggrahan tepatnya di Desa Dadapan, Kecamatan Boyolangu. Candi Boyolangu terdiri dari satu bangunan candi utama dan dua bangunan perwara di bagian sebelah utara dan selatan Candi ini dibangun sebagai tempat untuk meletakkan abu jenazah dari Gayatri Rajapadni. Di bagian atas candi utama ditemukan arca buddha yang menggambarkan perwujudan Dhyani Buddha Wairocana yang duduk di atas singgasana berbentuk teratai dengan sikap dharmacakramudra (mengajar). Sayangnya, arca ini sudah tidak utuh lagi, bagian kepala arca sudah tidak ada dan masih belum ditemukan hingga saat ini. Penemuan yang penting adalah dua umpak yang terpahatkana angka 1291 saka dan 1311 saka. Kedua penanggalan ini menjadi rujukan bagi arkeolog untuk memperkirakan kapan tepatnya candi ini didirikan. Arkeolog UI, Aris Munandar, menggolongkan candi ini ke dalam bangunan resi karena bentuk arsitekturnya yang sederhana dan letaknya terpencil. Setelah mengunjungi 3 obyek cagar budaya di Tulungagung, peserta melanjutkan kegiatan di hall Hotel Narita untuk berdiskusi dengan kelompok yang sudah ditentukan panitia. Ada sekitar 8 kelompok yang masing-masing terdiri dari peserta didik dan guru pendamping. Tiap-tiap kelompok diminta memberikan ide kreatif tentang bagaimana upaya pelestarian tiga obyek cagar budaya tersebut untuk 20 tahun yang akan datang. Setelah berdiskusi, masing-masing kelompok diberi kesempatan untuk mempresentasikan ide kreatifnya beserta tanya jawab dari peserta lain. Acara terakhir yaitu penutupan oleh Seksi Pembinaan Sejarah Lokal, Drs. I Gede Ariawan, MM. Jelajah sejarah klasik ini memberikan kesempatan bagi peserta, khususnya tim dari SMA Negeri 1 Glagah, untuk mengenal dan memahami lebih jauh obyek sejarah lokal yang ada di Tulungagung pada masa Hindu Buddha. Dari kegiatan ini, kami menyadari bahwa melakukan penelitian sejarah lokal bisa juga diimplementasikan di Banyuwangi, mengingat banyak tempat-tempat bersejarah yang perlu di kaji lebih jauh. Selain itu, kami memahami bahwa untuk membuat pelajaran sejarah menjadi lebih menarik maka perlu dilakukan metode edutainment dengan berkunjung ke tempat-tempat bersejarah yang ada di lingkungan sekitar. Memperkenalkan peserta didik pada sejarah lokal Banyuwangi dapat memberikan pengalaman dan meningkatkan daya nalar serta kritis peserta didik terhadap fenomena yang ada di lingkungan sekitar. Dengan menggali potensi sejarah lokal Banyuwangi maka diharapkan kajian tersebut dapat digunakan untuk memperkaya sejarah nasional dan mengurangi kejenuhan peserta didik dalam mempelajari materi sejarah yang sudah tercantum dalam buku teks pelajaran. AyuFitriwk
0

You may also like

Dewan Ambalan: Sayu Wiwit dan Wong Agung Wilis Giat Prestasi Provinsi
Widya Wisata 2019: Napak Tilas Edukasi demi Majukan Prestasi
Hari Kesaktian Pancasila, Hari Berduka SMAN 1 Glagah