Oleh : Attha Ghaly Ridho Ananda (XI IPA 1)

Salam kenal, namaku Attha Ghaly Ridho Ananda. Aku yang sekarang sering “menginap” di kelas XI IPA 1 ini ingin berbagi pengalaman pribadiku saat menjalani Olimpiade Sains Nasional di Manado.  Hal itu merupakan hal pertama dan yang paling berkesan dalam hidupku karena aku tak pernah sekalipun keluar pulau Jawa-Bali. Bahkan ke Jawa Barat pun aku tak pernah walau cuma sekali. Aku juga tak pernah mengikuti lomba yang bertaraf nasional sebelumnya. Paling mentok ya cuman sampai provinsi, 6 tahun lalu, saat kelas 5 SD.

Langsung saja ke ceritaku. Jadi awalnya diadakanlah tes seleksi masuk untuk menjadi anggota pembinaan OSN di sekolahku. Para siswa dibolehkan untuk memilih dua mata pelajaran. Aku yang awalnya bercita cita menjadi seorang dokter, pastilah aku bakal memilih biologi. Sayangnya, entah kenapa tiba tiba tak ada angin tak ada hujan aku malah memilih mapel Astronomi, sebuah mapel yang asing di telinga sebagian siswa. Waktu pengerjaan dimulai. Setelah dimulai dan soal kubuka, aku terkejut. Aku tak mengerti apa apa. Jadi aku kerjakan sebisanya dan seadanya. Setelah itu aku pulang, tanpa mengambil tes kedua, biologi.

Aku memang anak hafalan, bukan anak menghitung dan melogika. Jadi kukira memang benar pilihanku jatuh pada biologi yang saat itu kupikir memang tak ada menghitung dalam bentuk apapun. Tapi astronomi, entahlah. Aku selalu ingin mencoba hal baru, tanpa memikirkan dampak di kemudian hari. Aku selalu suka tantangan. Apapun yang menyebabkanku kesulitan pasti akan aku kerjakan. Kecuali kalau terlalu sulit, aku ya angkat tangan.

Setelah selesai penyeleksian pertama, aku berbisik pada diriku sendiri, besok harus ikut biologi, besok harus ikut biologi, besok harus ikut bio-, lalu datang temanku, Dino namanya. Dia bertanya. “Dho”, sapanya. “Kamu ikut mapel apa Dho?”. Setelah aku menjawab pertanyaannya dan dia memberitahuku bahwa dia mengambil tes kebumian, terbesitlah di pikiranku. Ah, kebumian. Kenapa tidak mengambil mapel itu saja. Pasti isinya tentang bumi, hafalan, dan peluangku sepertinya lebih terbuka lebar! Akhirnya aku mengambil tes kebumian di hari kedua. Daaaan saat kubuka soalnya. Deg deg. Hatiku berhenti berdetak sedetik. Sesulit itu.

Hah. Akhirnya selesai sudah. Lelah, letih, lemas. Pokoknya nyawaku serasa copot sebentar setelah mengerjakan soal jahanam itu. Sama sekali tak belajar itu satu satunya kesalahanku. Bagaimana aku bisa tahu materi kebumian kalau inti mapel kebumian saja aku tak tahu. Yasudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Datang kerjakan lupakan, motto nasional para anak pejuang pendidikan di negara +62 ini. Yaudahlah, paling paling urutan terakhir.

Seminggu kemudian kira kira, kertas pengumuman yang dinanti nanti akhirnya telah ditempel. Pastinya siswa siswa kelasku yang notabene memang semuanya pintar, rajin, antusias dan sensitif saat mendengar kata lomba, pastilah berbondong bondong menuju depan ruang wakasek, dimana kertas pengumuman tersebut ditempel. Matematika, fisika, kimia, biologi, komputer, geografi, ekonomi, eh eh kebumian. Atas-bawah, atas-bawah, atas-bawah.

Namaku tak ada.

Aku mulai berkecil hati. “Segitu bodohnya kah aku? Bahkan aku dengan mudahnya dikalahkan oleh teman temanku dari kelas lain. Ah, ini memalukan”, aku jadi tak berani melihat daftar mapel astronomi karena yah. Memang sesusah itu. Jadi kuberanikan diri untuk melihat betapa susahnya namaku tercatat masuk ke dalam kolom kolom yang mungkin bagi beberapa siswa hanya sebatas kolom dan baris.

 Namaku tetap tak ada.

“Yah, mungkin memang belum saatnya. Aku memang belum saatnya untuk tergabung dengan orang orang yang berbakat itu. Tapi aku masih bisa masuk kan? Pesertanya bahkan tak sampai 15 orang.” Di kelas, tepat saat pelajaran Bu Mayta, guru geografiku sebagai Pembina kebumian saat itu, aku bertanya pada Bu Mayta. Beliau mengiyakan, tetapi saya masih harus melapor pada Bu Fitri, sebagai koordinator OSN. Beliau juga mengiyakan. Akhirnya, dengan perasaan lega. Aku menghela nafas. “Alhamdulillah Ya Rabb.”

Hari pertama dalam pembinaan OSK, aku merasa kebumian ini ada sangkut pautnya dengan geografi, banyak malah. Pak Joko Purwosusanto, yang ternyata menjadi Pembina kebumian saat ini, mengajari kami sesuai dengan mapel geografi yang sudah diajarkan di kelas. Aku yang saat itu masih belum tahu semua materi kebumian merasa sangat antusias mendengarkan pelajaran dari Pak Joko.

Hari demi hari sampailah pada bulan Januari. Satu bulan sebelum OSK. Kami diberi pembimbingan intensif selama seminggu. Karena bidang geografi dan kebumian hampir sama, dan karena Bu Mayta sebagai Pembina geografi mengambil cuti hamil dan melahirkan, maka kebumian dan geografi ditempatkan bersama di ruang komputer atas.

Aku yang telah banyak membaca materi tahun lalu merasa bimbingan dari Pak Joko kurang memuaskan dan kurang mantap. Dikarenakan beliau yang memang tak mengajar kebumian di sekolah dan beliau juga mengajar secara kurang terfokus karena beliau adalah seorang wakasek. Sayapun berinisiatif mendownload soal soal tahun lalu mulai dari OSK, OSP, bahkan OSN. Dan dari situ saya banyak mendapat materi yang belum diajarkan oleh Pak Joko.

Selain dari soal soal, saya juga meminjam buku pedoman OSN kebumian di perpus sekolah. Dan kedua sumber bacaan ini menurut saya keduanya masih kurang dikarenakan tidak adanya Pembina yang bisa memberi penjelasan mendetail terhadap isi buku, dan kurangnya materi astronomi yang sama sekali tidak saya dapatkan saat pembinaan. Saya sering tidur larut malam demi membaca, merangkum dan membuat catatan terkait materi kebumian, searching materi, belajar soal, dan terus seperti itu hampir setiap hari.

Hari H OSK pun tiba, setelah soal dibagi, saya lumayan cukup bisa mengerjakan soal berkat soal tahun kemarin, berbeda dengan teman temanku yang kurang bisa mengerjakan, bahkan mereka banyak mengosongi jawaban mereka. Setelah selesai, kamipun pulang dan istirahat di rumah masing masing, padahal seharusnya kami masih ada kelas. Tapi kepala sekolah mengizinkan kami untuk pulang.

Aku masuk!! Aku kaget, haru dan gembira ketika namaku tercetak di lembar hasil pengumuman OSK, dan kalian pasti tahu apa artinya. Dispen, hal yang ditunggu-tunggu para murid. Dan itu sekitar tiga-dua mingguan untuk persiapan OSP. Nah beda halnya dengan OSK, kami berdelapan benar benar digembreng habis habisan. Aku yang awalnya tidak mendapat mapel astronomi, sangat terbantu dengan “disewanya” Bu Tunis sebagai Pembina astronomiku. Dan banyak rumus yang harus aku hafalkan. Mantapp jiwaaaaa.

Setelah itu hari H tiba. Pertama kalinya aku ke Surabaya,yang  tak cuma sebatas lewat. Aku ditempatkan di hotel Grand Surabaya. Kami disana “tinggal” selama semalam dua hari. Istirahat pada malamnya dan lomba di kemudian hari. Saat hari tes, di waktu aku mengerjakan soal, saat itu adalah pertama kalinya aku merasakan sulitnya soal essay kebumian. Soalnya yang campur baur dengan fisika dan kimia dapat membuat otakku yang lembek ini menjadi beku, belum lagi soal pilihan gandanya, yang notabene adalah keturunan dari geografi, fisika, kimia, biologi, astronomi, dan pastinya matematika.

Akhirnya kita bertujuh pulang tanpa bersama Febi, dia pulang lebih awal karena saat OSP sayangnya dia malah sakit. Seminggu dua minggu pengumuman belum kunjung disebarluaskan. Kami pun menunggu dengan ketidakpastian harap harap agar dapat masuk OSN, karena perjuangan kami hanya tinggal selangkah lagi.

Tiba tiba di suatu hari, saat aku bangun dari tidur siang aku mendapat banyak notifikasi selamat dari Whatsappku.  Betapa senganya hatiku saat kutahu penantian panjangku dan kerja kerasku selama ini membuahkan hasil. Aku bersyukur pada Tuhan Yang Maha Kuasa karena pada hari itu, telah diumumkan bahwa aku menjadi salah satu delegasi mapel kebumian dari Jawa Timur. Terima kasih Ya Allah.

Persiapan bagiku untuk menjalani OSN sangatlah melelahkan, panjang, dan ketat. Bahkan aku mendapat dispensasi untuk tidak mengikuti ujian kenaikan kelas sebagai syarat menuju jenjang yang lebih tinggi. Tak mengikuti pondok ramadhan juga kemah raya. Bagiku pelatihan ini sangat melelahkan dan menyenangkan. Karena saat teman temanku sedang berlibur, aku malah stres belajar, tapi untungnya aku bisa jalan jalan ke BMKG, dan praktek lapangan ke Pantai Bama. Salin itu aku jga mendapat pelatihan dari Pemerintah Jawa Timur di Hotel Sahid Surabaya selama kurang lebih 3 hari.

Di hari yang sangat mendebarkan di Manado, baru saja aku landing di Bandara Sam Ratulangi, aku merasakan hiruk pikuk Kota Manado. Kota Manado sih kalo di Banyuwangi lebih mirip Kota Genteng sih menurutku, tapi ditambah dengan banyak hotel, itu aja bedanya. Soalnya menurutku penduduknya lebih sepi dibanding Genteng. Macet saja kayaknya lebih jarang di sini daripada di Jawa.

Hari pertama, hari Minggu, acaranya hanya acara kedatanagn dan registrasi peserta. Hari Senin, kami menuju Kawanua Convention Hall untuk acara pembukaan, dilanjutkan dengan pengarahan teknis selama perlombaan. Malamnya kami belajar ala sistem kebut semalam karena esoknya kami menjalani tes teori dan peraga bersamaan.

Hari Selasa, kami sebanyak 77 orang melakukan tes teori di SMA Saint Nicholaus Tomohon,  Lokon Tomohon. Kami semua menjalani tes teori dengan tenang dan kesusahan selama 2,5 jam. Karena soalnya memang susah. Setelah itu, tanpa dilanjutkan istirahat, kami menjalani tiga tes peraga sekaligus yaitu peraga astronomi, geologi, dan meteorologi. Setelah itu, kami pulang dalam keadaan masih tegang karena besok masih dilakukan tes praktek lapangan di Pantai Tasik Ria.

Hari Rabu, aku serombongan sampai di Pantai Tasik Ria untuk menjalani tes praktek lapangan semua submapel disana. Astronomi, geologi, meteorologi, dan pastinya oceanografi. Tak sampai sore, ujian praktekpun selesai dengan acara foto bersama di pesisir Pantai Tasik Ria. Kamipun pulang dengan perasaan lega, rileks, dan bebas.

Esoknya, hari Kamis, kami sarapan pagi dan dilanjutkan dengan wisata edukasi. Kami berkeliling ke destinasi wisata sekitar Kota Manado. Rombongan kami memulai wisata di Bukit Doa Mahawu, dilanjutkan dengan mengunjungi Danau Linow, dan ditutup dengan mengunjungi Benteng Moraya.

Hari Jumat, sebagai hari yang mendebarkan, hari pengumuman, kuawali dengan mandi pagi yang menyegarkan dan sarapan pagi setelah kemarin bersenang senang ria. Kami berkumpul di Kantor Gubernur Sulawesi Utara. Diawali dengan doa, sambutan dari menteri pendidikan, dan Ketua Direktorat PSMA. Tapi sayangnya, aku tak juara. Dari 5 emas, 10 perak dan 15 perunggu, aku tak mendapat medali apapun. Kecewa rasanya, tapi tak mengapa. Kuanggap hal ini sebagai hadiah yang terbaik ketiga dari Tuhan selain setelah orang tua dan adikku.

Aku sangat bahagia sudah bisa melangkah sejauh ini, lebih jauh dari teman-temanku. Aku juga bersyukur dengan adanya OSN. Tanpanya, aku pasti saat ini masih terombang ambing dalam memilih jurusanku, yang saat itu aku masih ragu ragu dalam memilih antara kedokteran, teknik kimia, atau perminyakan. Tapi sekarang sudah tidak lagi. Selain itu, aku mendapat banyak teman teman yang baik dan pintar. Dari mereka aku bisa memupuk rasa iri hatiku, dengan begitu aku bisa berkaca pada mereka dan berusaha mengalahkan mereka di lain kesempatan. Tunggu ya kalian!

OSN bagiku pribadi, merupakan hal yang sangat penting yang kini telah menjadi bagian dari ingatanku. Ingatan itu akan selalu membekas dalam hatiku, dan kelak akan menjadi salah satu hal penting yang akan aku ceritakan pada anak cucuku kelak, saat aku sudah menua, sebagai hal yang bisa aku banggakan dan tanamkan semangatnya pada anak cucuku kelak.

Aku berharap, agar semua anak di Indonesia, bisa bersekolah dengan baik, tanpa terkendala biaya, waktu, maupun tempat. Dan mengejar cita citanya seperti diriku yang sekarang, walaupun belum berhasil. Semoga pendidikan di negara kita tercinta ini semakin lebih baik, dari hari ini, maupun kemarin. Terima kasih telah mendengar ceritaku.

Ini ceritaku, mana ceritamu?

0

You may also like

Pulsa Ganesha 2019-2020
Semarak Paradigma 60
Kontribusi Siswa SMAN 1 Glagah dalam Upacara Perayaan Hari Kemerdekaan Ke-74 Republik Indonesia