Setelah dijamu dengan ramah di Balai Kota Bandung oleh Istri Wali Kota Bandung, ‘kontingen’ SMAN 1 Glagah Banyuwangi melanjutkan safari ke kampus legendaris, ITB (Institut Teknologi Bandung). Di auditorium ITB, rombongan disambut oleh Wakil Rektor ITB Bidang Riset, Inovasi, dan Kemitraan, Prof. Dr. Ir. Bambang Riyanto Trilaksono dan Kepala Subdirektorat Humas dan Publikasi, Fivien Nur Savitri, S.T; M.T.     Dalam sambutan pembukanya, Bambang Riyanto Trilaksono mengungkapkan bahwa Kampus ITB merupakan kampus terakreditasi A nomor satu di Indonesia. ITB menjadi Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia yang menempati posisi teratas dalam hal perolehan nilai SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri), baik yang berkategori saintek maupun sosial budaya. Jumlah program studi yang terakreditasi internasional sebanyak 24. Sementara UKT (uang kuliah tunggal) tahun ini rata-rata mencapai Rp12,5 juta per semester. UKT yang termahal ada pada program studi manajemen bisnis yang mencapai Rp20 juta per semester.     Lebih lanjut Pak Bambang mengimbau kepada peserta didik SMAN 1 Glagah, jangan takut masuk ITB hanya karena besaran nilai nominal UKT, sebab setelah masuk ITB, tawaran beasiswa di ITB sangat banyak. Selain itu, pada semester berikutnya, mahasiswa bisa mengajukan banding terkait besaran nilai nominal UKT.     Pernyataan yang disampaikan oleh wakil rektor ITB itu, terkonfirmasikan dengan Dino Satrio Pandu, alumni SMAN 1 Glagah Banyuwangi tahun 2017 kelas XII IPA 1. Awal kuliah di ITB di semester 1, Dino membayar UKT sebesar Rp10 juta, tetapi memasuki semester 2, mahasiswa Teknik Kedirgantaraan ITB ini mengajukan banding, dan bandingnya diterima. Kini Dino yang mahasiswa semester 3 ini, hanya berkewajiban membayar UKT per semester sebesar Rp4 juta.     Usai memberikan sambutan singkatnya, Prof. Bambang mohon izin kepada hadirin yang hadir di ruang auditorium, karena ada tugas lain yang mendesak. Acara berikutnya dipandu oleh Fivien Nur Savitri, S.T; M.T.     Fivien Nur Savitri lebih detil menyampaikan hal-ihwal yang berkaitan dengan ITB (lihat foto grafis), mulai dari mekanisme penerimaan mahasiswa baru jalur SNMPTN dan SBMPTN, posisi peringkat ITB di tingkat nasional dan internasional, UKM (unit kegiatan kemahasiswaan), berbagai prestasi ITB, hingga sejarah panjang ITB sebagai kampus legendaris karena berbagai tokoh bangsa dan aktivis sosial dan politik di republik ini mulai dari Presiden pertama RI, Ir. Soekarno dan Presiden ke-3 Prof. Dr. B.J. Habibie, M.Eng. hingga Abu Rizal Bakri, Arifin Panigoro, Ridwan Kamil, dan sebagainya, pernah mengenyam pendidikan di kampus yang didirikan pada 3 Juli 1920 dengan nama Technische Hoogeschool te Bandoeng dan sejak 18 Oktober 1924 sebagai Perguruan Tinggi Hindia Belanda.     Pada 2 Maret 1959 Perguruan tinggi Hindia Belanda secara resmi diubah namanya menjadi ITB. Kini kampus ITB berada di tiga lokasi, yaitu di Bandung sebagai kampus utama, di Jatinangor Sumedang, dan di Cirebon. Sebelum memilih jurusan atau program studi di ITB, ada baiknya calon mahasiswa (khususnya dari luar Bandung) memerhatikan lokasi jurusan atau program studi yang hendak dipilih karena tidak semua jurusan atau program studi berlokasi di Bandung (ISM).  
0

You may also like

PERINGATAN KE-73 TAHUN HARI GURU DAN PERPISAHAN PURNATUGAS
IKRAR ANTIROKOK DAN DEKLARASI ANTINARKOBA PADA UPACARA 10 NOVEMBER 2018 DIHADIRI OLEH KASAT NARKOBA POLRES BANYUWANGI
SMAN I GLAGAH BANYUWANGI BORONG JUARA DALAM BERBAGAI LOMBA PADA ACARA BULAN BAHASA INDONESIA TAHUN 2018

desy